Dipublikasikan: Selasa 08 September 2026

HORIZON TEKNOLOGI

Solar Energy • Water Treatment Solutions

Circular Economy PLTS: Apa yang Terjadi dengan Panel Surya di Akhir Masa Pakainya?

Memahami tantangan dan peluang daur ulang panel surya menjelang gelombang pensiun massal PLTS di Indonesia

Indonesia mulai memasuki fase pembangunan PLTS secara masif sejak pertengahan 2010-an. Panel surya umumnya memiliki garansi performa selama 20–25 tahun.

Artinya, gelombang pertama panel surya yang mencapai akhir masa pakainya diperkirakan mulai terasa pada 2035–2045. Namun, isu panel surya bekas perlu dibahas sejak sekarang.

Panel dapat pensiun secara normal. Panel juga dapat rusak lebih awal akibat kerusakan fisik atau bencana.

Hal ini penting bagi industri yang berinvestasi dalam proyek PLTS jangka panjang.

Kenapa Isu Ini Penting?


Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) memproyeksikan peningkatan limbah panel surya global mulai dekade 2030-an.

Peningkatan tersebut terjadi seiring pensiunnya panel dari gelombang awal pembangunan PLTS dunia.

Tanpa sistem daur ulang yang memadai, panel bekas berisiko berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Padahal, sebagian besar material panel masih memiliki nilai ekonomi. Material tersebut meliputi kaca, aluminium, tembaga, dan beberapa logam lainnya.

Bagi industri, pemahaman tentang end-of-life panel sangat penting. Hal ini membantu perusahaan menyiapkan strategi pengelolaan aset sejak awal.

Estimasi biaya dekomisioning juga sebaiknya masuk dalam studi kelayakan proyek. Biaya tersebut jangan baru diperhitungkan ketika panel sudah pensiun.

Dari Apa Sebenarnya Panel Surya Dibuat?


Sebagian besar panel surya menggunakan teknologi kristal silikon. Teknologi ini menjadi salah satu jenis panel yang paling banyak digunakan.

Panel terdiri dari beberapa lapisan material. Setiap material memiliki nilai dan metode daur ulang yang berbeda.

Memahami komposisi panel membantu kita melihat potensi daur ulangnya. Secara teknis, sebagian besar material panel dapat dipulihkan.

Namun, proses tersebut masih menghadapi tantangan ekonomi dan infrastruktur.

Material Porsi Berat (approx.) Potensi Daur Ulang
Kaca (glass cover) ± 70–75% Tinggi — dapat didaur ulang jadi kaca baru/bahan konstruksi
Aluminium (frame/rangka) ± 8–10% Sangat tinggi — mudah dilebur ulang seperti aluminium umum
Silikon (sel surya) ± 3–5% Sedang — perlu proses termal/kimia khusus untuk pemurnian ulang
Tembaga (kabel & interkoneksi) ± 1% Tinggi — bernilai jual dan mudah dipisahkan
Perak (kontak sel surya) < 0,1% Bernilai ekonomi tinggi meski porsinya kecil
EVA (encapsulant) & backsheet polimer ± 6–10% Rendah — sulit dipisahkan, umumnya jadi residu proses

Tiga Jalur Utama Proses Daur Ulang Panel Surya


 Proses Mekanis (Mechanical Recycling)

Panel dihancurkan dan dipisahkan berdasarkan jenis material.

Proses ini menggunakan metode fisik. Contohnya adalah penghancuran, penyaringan, dan pemisahan berdasarkan sifat material.

Metode mekanis relatif sederhana dan ekonomis. Proses ini dapat memulihkan sebagian besar kaca dan aluminium.

Namun, metode ini memiliki keterbatasan. Sel silikon sulit dipisahkan dari lapisan EVA yang merekat kuat.

  1. Proses Termal (Thermal Recycling)

Panel dipanaskan pada suhu tinggi untuk melepaskan lapisan EVA dan polimer lainnya.

Proses tersebut membantu memisahkan kaca, sel silikon, dan logam. Tingkat pemulihan material juga dapat lebih tinggi.

Namun, proses termal membutuhkan pengendalian emisi yang baik.

Pemanasan material polimer dapat menghasilkan senyawa berbahaya. Karena itu, fasilitas harus memiliki sistem pengolahan emisi yang memadai.

  1. Proses Kimia (Chemical/Delamination Recycling)

Proses kimia menggunakan bahan pelarut tertentu. Tujuannya adalah melepaskan lapisan EVA tanpa merusak sel silikon.

Dengan metode ini, sel silikon dapat dipulihkan dalam kondisi lebih utuh.

Material tersebut berpotensi digunakan kembali atau diproses lebih lanjut. Dengan demikian, nilainya tidak hanya berasal dari material mentah.

Metode ini memiliki tingkat kompleksitas yang lebih tinggi. Biaya prosesnya juga relatif mahal.

Karena itu, penerapannya masih terbatas pada proyek tertentu dan fasilitas pengolahan yang memiliki teknologi khusus.

Tantangan Daur Ulang Panel Surya di Indonesia


Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan dalam pengelolaan panel surya bekas.

Pertama, aspek regulasi.

Kerangka pengelolaan limbah panel surya masih perlu diperkuat. Mekanisme tanggung jawab produsen juga perlu terus dikembangkan.

Uni Eropa telah menerapkan pengelolaan panel surya melalui kerangka WEEE sejak 2012.

Kedua, potensi kandungan material tertentu.

Panel dapat mengandung sejumlah kecil logam seperti timbal pada solder dan perak pada kontak sel.

Karena itu, panel bekas perlu ditangani dengan prosedur yang tepat. Pembuangan sembarangan dapat meningkatkan risiko pencemaran lingkungan.

Ketiga, keterbatasan fasilitas.

Fasilitas khusus untuk mendaur ulang panel surya masih terbatas di Indonesia.

Material seperti kaca, aluminium, dan tembaga dapat lebih mudah masuk ke jalur daur ulang umum. Namun, pemulihan sel dan material lainnya membutuhkan proses yang lebih khusus.

Keempat, tantangan logistik.

Lokasi PLTS tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Pengumpulan panel bekas membutuhkan sistem logistik yang efisien.

Tantangan tersebut semakin besar untuk proyek yang berada di luar Jawa.

Kelima, skala ekonomi.

Volume panel yang pensiun di Indonesia masih relatif kecil. Kondisi ini membuat pembangunan fasilitas khusus membutuhkan perhitungan ekonomi yang matang.

Opsi yang Tersedia untuk Panel Surya di Akhir Masa Pakai


Reuse (Guna Ulang)

Panel yang masih berfungsi dapat digunakan kembali. Hal ini berlaku meskipun performanya sudah menurun.

Panel tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan daya yang lebih rendah.

Contohnya adalah penerangan jalan umum tenaga surya (PJU). Panel juga dapat digunakan pada sistem off-grid skala kecil.

Refurbishment

Panel yang mengalami kerusakan sebagian masih dapat dievaluasi. Beberapa panel mungkin dapat diperbaiki atau digunakan kembali.

Contohnya adalah panel dengan kerusakan ringan atau penurunan performa tertentu.

Namun, kelayakan refurbishment harus diperiksa terlebih dahulu. Faktor keamanan dan biaya perbaikan juga perlu dipertimbangkan.

Recycling Material

Panel yang rusak total dapat masuk ke proses daur ulang material.

Kaca dan aluminium menjadi material yang paling mudah dipulihkan. Tembaga dan material bernilai lainnya juga dapat dipisahkan.

Daur ulang menjadi pilihan yang lebih baik daripada pembuangan langsung ke TPA.

Penyimpanan Sementara (Storage)

Panel bekas dapat disimpan secara terkontrol sambil menunggu fasilitas pengolahan yang sesuai.

Strategi ini dapat menjadi pilihan untuk proyek berskala besar.

Pemilik PLTS dapat mempertimbangkan nilai material dan perkembangan teknologi daur ulang. Penyimpanan tetap harus memperhatikan aspek keselamatan dan lingkungan.

Apa yang Bisa Dipersiapkan Industri Sejak Sekarang?


Industri dapat mengambil beberapa langkah sebelum panel mencapai akhir masa pakainya.

  1. Perhitungkan biaya dekomisioning

Masukkan biaya dekomisioning dalam perhitungan total cost of ownership (TCO).

Biaya tersebut sebaiknya diperhitungkan sejak tahap studi kelayakan proyek. Jangan hanya menghitung biaya investasi dan O&M.

  1. Pilih produsen dengan program take-back

Pertimbangkan produsen panel yang memiliki program take-back atau kemitraan daur ulang.

Program tersebut dapat membantu pengelolaan panel ketika mencapai akhir masa pakainya.

  1. Dokumentasikan spesifikasi panel

Simpan datasheet dan informasi teknis panel sejak awal proyek.

Informasi seperti jenis sel dan material panel akan membantu proses sortasi. Data tersebut juga berguna untuk menentukan metode pengolahan yang sesuai.

  1. Tingkatkan kualitas O&M

Program O&M yang baik dapat membantu memperpanjang usia pakai PLTS.

Semakin lama panel dapat digunakan dengan baik, semakin lama pula kebutuhan pengelolaan limbah dapat ditunda.

Menutup: Circular Economy Bukan Hanya Soal Akhir, Tapi Soal Desain Awal


Pendekatan circular economy pada PLTS sebaiknya dimulai sejak tahap perencanaan.

Proses tersebut tidak perlu menunggu hingga panel mencapai akhir masa pakainya.

Pemilihan panel berkualitas menjadi langkah awal yang penting. Program take-back juga dapat menjadi salah satu pertimbangan.

O&M yang konsisten membantu memperpanjang usia pakai sistem. Perusahaan juga perlu memperhitungkan biaya end-of-life sejak awal.

Dengan pendekatan tersebut, industri dapat mengurangi risiko limbah panel di masa depan.

Diskusikan Perencanaan PLTS Jangka Panjang Anda


Horizon Teknologi membantu klien merancang sistem PLTS dengan mempertimbangkan seluruh siklus hidupnya.

Layanan mencakup pemilihan komponen dan studi kelayakan finansial. Kami juga mendukung strategi O&M untuk menjaga performa sistem.

Rencanakan PLTS Anda hari ini dengan mempertimbangkan kebutuhan hingga akhir masa pakainya.

 

Hubungi Horizon Teknologi untuk konsultasi perencanaan PLTS jangka panjang.