Dipublikasikan: Rabu, 20 Mei 2026

1. Energi Terbarukan

Energi terbarukan adalah energi yang sumbernya dapat diperbarui oleh proses alam secara berkelanjutan. Selanjutnya, laju pembaruannya sama atau lebih cepat dibandingkan tingkat penggunaannya. Energi ini berasal dari proses alam yang terus berlangsung. Contohnya meliputi sinar matahari, angin, ombak, aliran air, biogas, dan panas bumi. Sebagian besar energi terbarukan merupakan turunan dari energi matahari. Namun, terdapat pengecualian yaitu energi panas bumi atau geothermal. Energi biomassa berasal dari proses fotosintesis pada tanaman. Sementara itu, angin terbentuk akibat perbedaan suhu karena pemanasan oleh matahari. Energi air berasal dari siklus hidrologi yang dipicu oleh panas matahari. Kemudian, hujan yang turun menggerakkan aliran air sebagai sumber energi. Energi fosil juga berasal dari energi matahari yang tersimpan dalam makhluk hidup purba. Akan tetapi, proses pembentukannya membutuhkan waktu yang sangat lama. Penggunaan energi fosil secara terus-menerus menyebabkan ketersediaannya menurun. Oleh karena itu, energi fosil tidak termasuk dalam kategori energi terbarukan. Pengembangan energi terbarukan berfokus pada pemanfaatannya oleh manusia secara berkelanjutan. Selain itu, penggunaannya berkaitan dengan isu lingkungan, sosial, dan politik.

2. Kondisi Energi Dunia

Pada tahun 2020, konsumsi energi dunia diproyeksikan mencapai tiga kali lipat dibandingkan tahun 1970. Meskipun sempat terjadi krisis ekonomi di Asia Tenggara, pertumbuhan energi global hanya mengalami sedikit perubahan. Selanjutnya, para analis memperkirakan kebutuhan energi akan meningkat setelah krisis terlewati. IEO memperkirakan konsumsi energi dunia pada tahun 2020 mencapai 639 × 10¹⁵ BTU. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sekitar 2,3% per tahun pada periode 1995–2020. Secara keseluruhan, kenaikan konsumsi energi selama periode tersebut mencapai sekitar 75%. (Gambar 1)

Gambar 1. Pertumbuhan Energi Dunia dan Jenis Energi yang Digunakan

Energi fosil, terutama minyak, merupakan sumber energi yang ketersediaannya semakin menipis. Namun, energi ini masih dianggap stabil dan andal, terutama untuk pembangkit listrik. Di sisi lain, masalah lingkungan meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan energi di masa depan. Emisi dari pembangkit listrik konvensional memberikan dampak serius terhadap lingkungan. Kondisi ini mendorong negara maju untuk merevisi sistem pembangkit energi mereka. Oleh karena itu, PBB mendorong peningkatan penggunaan energi baru dan terbarukan secara global. Pemanfaatannya ditargetkan meningkat dari sekitar 10% pada 2012 menjadi 30% pada 2020.

3. Kondisi Energi di Indonesia

Penggunaan energi di Indonesia meningkat pesat seiring pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk. Berdasarkan data statistik energi 2003, konsumsi energi nasional mencapai sekitar 418.913 ribu SBM. Penggunaan terbesar berasal dari sektor industri, transportasi, dan rumah tangga. Laju pertumbuhan konsumsi energi rata-rata mencapai 10% per tahun. Tren ini masih menunjukkan peningkatan pada masa mendatang. Dari sisi sumber energi, penggunaan BBM mencapai sekitar 79% dari total kebutuhan energi. Ketergantungan yang tinggi terhadap minyak berpotensi mengganggu ketahanan energi nasional. Hal ini terjadi karena BBM merupakan sumber energi yang tidak terbarukan. Penggunaan BBM terus meningkat, terutama pada sektor transportasi. Sektor ini sulit beralih ke sumber energi alternatif dalam waktu singkat. Secara keseluruhan, BBM menjadi sumber energi terbesar dengan porsi sekitar 55,47%. Selanjutnya diikuti oleh gas alam, listrik, batubara, dan LPG. Jika dilihat dari penggunaannya, sektor industri merupakan konsumen energi terbesar. Kemudian diikuti oleh sektor transportasi, rumah tangga, dan komersial.

Tabel 1. Proyeksi Konsumsi Energi Final di Indonesia

4. Energi Terbarukan di Indonesia

Penggunaan energi baru dan terbarukan di Indonesia pada tahun 2010 masih sekitar 4,42% dari konsumsi nasional. Selanjutnya, pada tahun 2015 meningkat menjadi sekitar 6,2% atau naik rata-rata 0,36% per tahun. Oleh karena itu, pemerintah mencanangkan peningkatan pemanfaatan energi terbarukan hingga 15% pada tahun 2020. Program ini mencakup pemanfaatan panas bumi, fotovoltaik, hidro, serta biogas dan biomassa.

Tabel 2. Bauran Energi Primer Tahun 2015

Selain itu, target pemanfaatan energi terbarukan ditingkatkan menjadi 23% pada tahun 2025. Target tersebut meningkat dari kondisi sekitar 6% pada tahun 2015. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat berbagai kendala dan tantangan. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat untuk mencapai target tersebut.

5. Tantangan Energi Terbarukan

a. Masalah Penyimpanan Energi

Beberapa energi terbarukan tidak dapat memasok daya secara kontinu selama 24 jam (bersifat intermiten). Kondisi ini disebut intermiten, seperti pada tenaga surya dan angin. Pada malam hari, sistem surya tidak menghasilkan energi listrik, sehingga biasanya hanya ada solusi bagi intermiten yaitu: hybrid dengan fossil biasanya diesel dan gas turbin; atau disimpan seperti baterai dan sistim penyimpanan energi lainnya non-baterai.

b. Masalah Faktor Kapasitas

Faktor kapasitas adalah rasio antara output aktual dan potensi output maksimum. Nilai ini dihitung jika pembangkit beroperasi selama 24 jam penuh. Pembangkit intermiten seperti angin dan surya memiliki faktor kapasitas yang lebih rendah. Rata-rata faktor kapasitas angin sekitar 31%, sedangkan surya berkisar 23% hingga 30%. Sebaliknya, pembangkit nuklir memiliki faktor kapasitas tertinggi, yaitu sekitar 90% hingga 95%. Kinerja fotovoltaik juga dipengaruhi oleh suhu dan kondisi lingkungan. Bayangan dari awan atau pohon dapat mengurangi daya yang dihasilkan.

c. Masalah Luas Area atau Lahan

Salah satu tantangan utama pembangunan pembangkit adalah kebutuhan lahan yang luas. Proses pembebasan lahan sering memerlukan waktu yang sangat lama. Sebagai contoh, PLTA Jatigede membutuhkan waktu hingga 30 tahun untuk pembebasan lahan. Luas lahan yang dibutuhkan mencapai sekitar 147 hektar untuk pembangunan waduk. Selain itu, pembangkit surya dan angin juga membutuhkan area yang sangat besar. Hal ini disebabkan oleh rendahnya densitas energi dibandingkan sumber energi lain. Sebagai perbandingan, densitas energi batubara sekitar 1.000 kWh per meter persegi. Sementara itu, nuklir memiliki densitas energi yang jauh lebih tinggi. Dengan lahan kecil, nuklir dapat menghasilkan energi jauh lebih besar dibandingkan batubara, angin, dan surya.

d. Masalah Kurva Bebek (Duck Curve)

Pada sistem listrik interkoneksi, penurunan daya dalam jumlah besar dapat membebani jaringan. Kondisi ini terjadi akibat tingginya penetrasi pembangkit intermiten seperti surya dan angin. Penurunan daya lebih dari 10% dapat mengganggu kestabilan sistem listrik. Oleh karena itu, diperlukan pembangkit lain untuk menutupi kekurangan daya secara cepat. Jika tidak tersedia sistem penyimpanan energi yang efisien, masalah ini semakin kompleks. Pembangkit base-load umumnya tidak dapat menaikkan daya dengan cepat. Untuk mengatasi hal ini, digunakan pembangkit peak-load seperti diesel dan turbin gas. Namun, biaya operasional pembangkit tersebut relatif tinggi.

e. Masalah Energy Return on Investment (EROI)

EROI adalah rasio antara energi yang dihasilkan dan energi yang diinvestasikan. Nilai ini digunakan untuk menilai kelayakan suatu sumber energi. Semakin tinggi nilai EROI, semakin efisien dan ekonomis sumber energi tersebut. Batas minimum keekonomisan umumnya berada pada nilai sekitar 7. Jika nilai EROI rendah, energi menjadi lebih sulit diperoleh dan kurang ekonomis. Oleh karena itu, EROI menjadi indikator penting dalam pengembangan energi terbarukan.

PT Horizon Teknologi sebagai perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan siap mendukung pemanfaatan energi surya. Perusahaan ini berkomitmen membantu berbagai stakeholder dalam implementasi solusi energi yang berkelanjutan. Dengan pengalaman dan pendekatan yang tepat, pemanfaatan energi surya dapat menjadi solusi efisien dan ramah lingkungan.